![]() |
|
|||
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
||||
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
.:: STRATEGIC PLANNING ::.
Miscellaneous TopicsCategory: Strategic Planning For Non-business ‘harus Bisa!’ Harus Dibaca !
Saya berdebar membaca buku yang berjudul ‘HARUS BISA!’ oleh Dr. Dino Patti Djalal, yang mengisahkan kepemimpinan presiden Yudoyono, walaupun baru sampai seperempatnya dari 424 halaman. Berdebar, karena belum pernah membaca buku berbahasa kita seperti ini tentang pembaharuan yang benar-segar yang dilakukan oleh presiden kita sekarang ini. Sungguh menakjubkan, keluar tepat dan sinkron, malahan, mendahului rencana pembaruan oleh presiden terpilih Obama di Amerika Serikat. Memang suatu pujian yang jarang, dikatakan oleh John Howard, bahwa presiden kita merupakan ‘the best president in the history of Indonesia’. Membaca sampai pada sub-Bab ‘Energi positif versus energi negatif’ saya tergelitik untuk menulis komentar ini tentang isinya - yang sangat positif -, karena dalam hemat saya ada segi (baik) lain dari mewartakan segi negatif. Energi positif dan energi negatif mempunyai filosofi Yin dan Yang dalam kultur Timur. Keduanya mau tidak mau (necessarily) berada bersamaan, karena energi positif harus dilakukan sebagian, atas dasar adanya kejadian yang negatif. Mewartakan yang negatif di media massa tidak boleh diberi konotasi energi negatif, kecuali bila tulisan itu berupa fitnah dan berbau politis negatif. Namun, banyak pelaporan negatif ada di seluruh dunia, dan sebagian besar benar, seperti dilaporkan, terutama oleh BBC, ABC dan CNN (Untold Stories), atau Newsweek, atau banyak media massa kita sendiri. Energi negatif tidak selalu sama dengan pengertian ‘menjelekkan’, karena konotasi menjelekkan sering berkaitan dengan individual judgement, terutama yang terkena kejelekkannya, misalnya bila secara politis digunakan ayat undang-undang untuk menuntut orang karena merasa dirugikan. Para pengacara yang sering tergoda menggunakan ayat ini untuk melakukan tuduhan, karena dibenarkan oleh konstitusi. Para pembaca hanya bisa ‘tersenyum kecil’. Energi negatif dalam pengertian menjelekkan memang sering dipancarkan oleh orang yang tidak pernah berbuat baik, dan hanya bersuara demi duit. Namun, kritik pedas yang sering dilontarkan oleh sosok seperti Kwik Kian Gie, kiranya tidak mempunyai tujuan destruktif. Sindiran pedas mungkin dimaksudkan untuk membangunkan para pengelola negara untuk mempelajari kebenarannya dan memperbaiknya. Misalnya masalah perminyakan Indonesia yang telah berubah dari ‘untouchable’ menjadi ‘touchable’. Tetapi masalah pelayanan kesehatan dan obat serta pengobatan benar-benar masih sakit, tetapi belum berubah. Kritik pedas tidak perlu dirisaukan, memang setiap orang mempunyai ciri khas berbicara. Merupakan kesalahan besar, bila isyu ini benar dan pemerintah, atau menteri bersangkutan tidak bergeming untuk memperbaikinya, walaupun menurut judul buku ini ‘HARUS BISA! Kita tahu bahwa hal ini terjadi banyak sekali di negeri kita, terutama di dunia politik praktis. Begitu banyaknya sehingga mungkin lebih banyak isyu jelek dibanding yang baik. Jadi munculnya energi negatif timbul karena sudah terjadi perbandingan yang merugikan, dan perbandingan pendapat (poise) penduduk sudah sangat miring, sehingga tidak mengherankan. Hal ini perlu dikikis, karena akan ‘membuat demokrasi Indonesia terpuruk’ (Presiden SBY). Saya bersemangat membaca buku ini, karena dalam doa-doa saya sering mendambakan perubahan (‘change’) di negeri tercinta ini, dan tidak sadar bahwa ini telah menjalani proses yang jauh sejak 2004. Mengapa media massa luput mewartakan wacana ini kepada pembacanya dan sering hanya membentangkan dan mempolarisasi pendapat, termasuk yang sesat. Walaupun mungkin wartawan memiliki pedoman penulisan, tapi bukankah media (maaf, saya tidak membaca semuanya) harus juga mempunyai warna untuk cenderung mendukung moral behavior dan good governance yang menghembuskan angin energi positif? Saya rasa semua unsur pemerintahan (termasuk yang tidak gemar membaca) perlu membaca ‘HARUS BISA!’, demi mencapai pendongkrakan (leverage) nasional. Mengubah kebencian dan menyatukan sasaran aura positif seorang pemimpin, supaya manusia Indonesia bekerja sama untuk mempunyai harapan masa depan yang positif. Iwan Darmansjah, dokter (Penulis tidak mempunyai konflik kepentingan, kecuali ingin melihat Indonesia benar-berubah) Print Article   Send Article |
|
||||||||
| Home | Profile | Medical Articles | Popular Articles | Miscellaneous Topics | Discussion | Links | Guestbook | Contact Me |
Best Viewed With Netscape 7.0 or Internet Explorer Copyright © 2002 - http://www.iwandarmansjah.web.id Web Development And Hosting By: a3plusmedia.NET |